Catat: 4 Mitos Seputar Keaslian Madu

Selain memiliki segudang khasiat, rasa manis madu yang ramah di lidah juga memudahkan masyarakat untuk menyajikan dan mengombinasikannya dalam beragam menu masakan maupun minuman. Mulai dari camilan Cornflake Madu, minuman ala-ala Susu Kurma, hingga sajian Donat yang menul-menul menggoda selera.

Sepanjang pandemi Covid-19 akhir-akhir ini, popularitas madu semakin melonjak naik seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh. Namun, banyaknya jenis dan merek madu yang beredar di pasaran seringkali menyulitkan masyarakat dalam memilih madu yang sesuai dan terjamin keasliannya.

Hal ini semakin diperparah dengan mitos-mitos kurang tepat dan tidak dapat dipertanggungjawabkan seputar keaslian madu yang beredar dari mulut ke mulut.

Berikut ini 4 Mitos seputar keaslian madu yang perlu di membantu dalam memilih madu yang tepat:

1. Madu asli tidak disukai semut

Mitos atau pendapat yang satu ini memang lumayan tenar di jagat permaduan. Namun perlu diketahui bahwa suka atau tidak sukanya semut pada madu tidaklah dapat dijadikan patokan untuk memeriksa keaslian madu.

Dilansir dari Kompas.com, dikutip dari Yohanes salah satu anggota Madu Hutan Indonesia (MHI), menyebutkan bahwa “— semut bisa saja menyukai madu, tetapi bisa juga tidak suka”.

Beliau juga menambahkan “— tidak dapat dipungkiri jika madu pun bisa dikerubuti semut, karena kandungan nektar bunga dalam madu yang tentu disukai oleh semut”.

Dikutip dari laman agriculture, kelembapan udara, kekentalan madu dan lokasi juga menjadi faktor penentu. Sederhananya, madu yang dengan tekstur encer akan banyak mengandung udara sehingga mudah menguarkan aroma yang tentu saja mengundang para semut berdatangan.

Jadi, dapat digarisbawahi bahwa kesukaan semut pada madu adalah hal yang wajar, karena komposisi madu itu sendiri yang salah satunya adalah manisnya nektar bunga.

2. Madu asli tidak akan berubah warna

Mengenai perubahan warna pada madu, pernyataan Ibu Dewi Masyitoh (Pemilik dan Komisaris Kembang Joyo Group) di laman Berita Antara memaparkan bahwa perubahan warna pada madu adalah hal yang biasa yang disebabkan reaksi Maillard.

© Pexels – Ekaterina

Ringkasnya, reaksi Maillard adalah pencoklatan non enzimatis pada madu yang justru mampu meningkatkan kadar antioksidan dalam madu. Antioksidan bermanfaat sebagai penangkal radikal bebas yang bisa memicu serangan jantung, kanker, katarak, dan menurunnya fungsi ginjal.

Dari penjelasan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa penyataan kedua soal keaslian madu ini tidaklah benar, karena bahkan madu asli pun juga dapat berubah warna.

3. Madu asli dapat meletup

Masih mengutip pernyataan Ibu Dewi, beliau juga menjelaskan bahwa fenomena meletupnya madu (saat membuka penutup wadahnya) lebih berkaitan dengan 1. Khamir (ragi) dan 2. Usia panen madu.

© Pexels – Jackie

Kandungan khamir (ragi) yang biasanya ikut terbawa saat proses pembentukan madu tidak akan aktif pada madu yang memiliki masa panen cukup panjang.

​​​​​Sebaliknya, khamir akan aktif dan melakukan proses fermentasi pada madu yang dipanen muda. Sehingga memicu konsentrasi CO2 (karbon dioksida) dalam berbentuk gas yang akan terakumulasi dan menghasilkan letupan saat berada di wadah tertutup.

Berdasarkan penjelasan tersebut dapat kita simpulkan bahwa meletupnya madu sama sekali tidak ada hubungannya dengan keaslian madu.

4. Mengkristalnya madu adalah salah satu ciri madu palsu

Disebut juga dengan istilah granulasi, mengkristalnya madu sering kali disalah-pahami sebagai salah satu ciri madu yang palsu. Padahal, mengkristalnya madu merupakan proses alami yang lumrah terjadi dan secara tidak langsung justru dapat menjaga kualitas madu itu sendiri.

© Pexels – Anna

Dilansir dari siouxhoney, penyebab utama dari fenomena ini adalah komposisi madu itu sendiri. Pada umumnya, kandungan madu sebagian besar terdiri dari glukosa alami dan 20% air.

Karena sifatnya yang jenuh (rapat), kandungan tinggi glukosa tersebut dapat memisahkan diri dari kandungan air sehingga terbentuklah kristal. Namun jangan panik, proses kristalisasi ini pada umumnya tidak mengubah kualitas, rasa dan komposisi pada madu.

Oleh karena itu, mengkristal atau tidaknya madu tidak serta-merta dapat dijadikan patokan untuk menguji keaslian si manis madu.


Baiklah, lengkap sudah penjabaran empat senarai mitos-mitos mengenai keaslian madu yang patut jadi catatan bagi Anda yang mungkin sedang keranjingan mengonsumsi madu.

Semoga penjelasan di atas dapat sedikit banyak membantu atau paling tidak memperkaya wawasan Anda akan dunia per-Madu-an, sampai jumpa di artikel berikutnya.
Salam # Catat …!

Share it!

Tulis komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

x

Register

Lost Password

Jangan disalin. Jika ingin menyalin teks ini, hubungi kontak kami.