Termasuk Pecel, 7 Kuliner Warisan Budaya Nusantara Berusia Ribuan Tahun

Kuliner Nusantara terkenal kaya akan kelezatan dan kekentalan rasa pada setiap sajiannya. Penggunaan bahan-bahan segar dan rempah-rempahnya yang melimpah selalu berhasil menggugah selera setiap penikmatnya. Maka tak heran — tidak hanya di dalam negeri saja, kelezatan dan cita rasa khas kuliner Indonesia juga telah dikenal, merambah dan diakui warga mancanegara.

Lebih dari itu, kuliner Nusantara juga merupakan bagian dari kekayaan warisan budaya yang tak kalah berharganya dengan peninggalan seni-budaya para leluhur. Hal ini diperkuat dengan ditemukannya kuliner Nusantara pada prasasti-prasasti dan/atau Naskah Kuno yang telah berusia ribuan tahun lamanya. Contohnya saja, kuliner merakyat bernama Pecel, jejak namanya ternyata dapat dirunut hingga abad ke-9 Masehi pada masa kerajaan Mataram Kuno, WOW amazing, Guys!.

Well, Guys… bagi para pembaca yang penasaran dengan kuliner-kuliner Nusantara mana saja yang ternyata memiliki nilai keantikan tinggi layaknya prasasti peninggalan kerajaan baheula, mari kita sama-sama susuri jejak kuliner tersebut di bawah ini.
Let’s check it out…!

1. Pĕcĕl-pĕcĕlan | Pecel

Seperti yang telah tertera pada judul dan sejumput cuplikan di bagian pengantar artikel ini, kuliner yang khas akan sambal kacangnya ini memiliki rekam jejak sejarah yang cukup baheula.

Pecel © Twitter/amazingindonesia

Asal-usul kata pecel dalam bahasa Jawa berarti ‘tumbuk’ atau ‘dihancurkan dengan cara ditumbuk’. Adapun nama ‘Pecel’ dalam dokumen sejarah tertulis dapat kita temukan pada Naskah Kakawin Rāmâyaṇa, yang dipercaya dibuat pada abad ke-9 Masehi, yaitu pada zaman kerajaan Mataram Kuno (± tahun 870 M), tepatnya di syair VIII (delapan), baris ke-33 dan syair XXV (lima belas), baris ke-25.

Lebih wow-nya lagi, kuliner pecel dalam naskah tersebut ternyata disebut sebagai salah satu hidangan yang disajikan dalam pesta penyambutan raja.

2. Skul Mantīman | Nasi Liwet

Nasi liwet adalah hidangan nasi yang dimasak dengan santan, kaldu ayam, dan rempah-rempah. Nasinya dimasak dengan santan, kaldu ayam, daun salam dan serai, sehingga memberikan nasi yang kaya rasa, aromatik, dan gurih.

Nasi Liwet © YouTube/thehasanvideo

Rekam jejak sejarah nasi liwet ternyata juga telah tercatat sejak zaman Mataram Kuno, yaitu dalam Prasasti Panggumulan I yang ditulis pada tanggal 26 Poça 824 Çaka atau 27 Desember 902 M. Pada Prasasti tersebut — tepatnya di bagian IIIa baris ke-18, sajian pecel disebut sebagai ‘Skul Mantīman‘. Prasasti ini dari masa Kerajaan Mataram Kuno dan dikeluarkan pada tahun 902 Masehi.

Kata ‘Skul’ sendiri adalah bahasa Jawa Kuno (Kawi) untuk ‘nasi’. Sedangkan ‘Mantīman’ (man-tīm-an) kata dasarnya adalah ‘tīm’, yang maknanya adalah ‘kukus’. Jadi, secara bahasa ‘skul mantīman’ adalah nasi yang dimasak dengan cara di kukus atau di-‘tim’.

3. Gulay-gulayan | Gulai/Gule

Gulai atau juga disebut sebagai Gule adalah masakan berbahan baku daging ayam, aneka ikan, kambing, sapi, jeroan, atau sayuran seperti nangka muda dan daun singkong, yang kemudian diolah dalam kuah bumbu rempah dengan cita-rasa yang gurih.

Gulai/Gule © Wikipedia/Midori

Kuliner dengan citarasa gurih dan sedap ini, dianggap sebagai salah satu bentuk varian dari “kari”. Di Nusantara, masakan gulai dapat kita jumpai di Jawa, Sumatera Barat, Lampung, Kepulauan Riau, dan Aceh.

Selanjutnya, ditinjau dari segi warisan budaya, gulai ternyata telah eksis sejak abad ke-9 M. Kuliner ini muncul dalam Naskah Kakawin Rāmâyaṇa peninggalan kerajaan Mataram Kuno (± tahun 870 M), tepatnya di syair XXV (25), baris ke-25. Serupa dengan Pecel, gulai juga disebutkan sebagai salah satu hidangan dalam pesta kerajaan. WowAmazing…!

4. Haryyas/Hinaryyasan/Ārrya | Sayur/Jukut Ares

Jukut ares adalah kuliner berkuah yang terbuat dari batang/pelepah pohon pisang muda. Semakin lezat dengan tambahan tulang daging ayam dan dihidangkan hangat-hangat saat musim hujan tiba.

Jakut Ares © Kooliner.com

Hingga kini, kita masih dapat menemukan kuliner sayur atau jukut ares ini di Bali, di Nusa Tenggara Barat dan juga di Sumatera Utara. Walau bahannya tak lazim, nyatanya sayur ares telah eksis di abad ke-10 Masehi.

Pertalian sejarah pada kuliner yang dalam bahasa Jawa Kuno bernama “haryyas”, “hinaryyasan” atau “ārrya” ini dapat ditemukan dalam beberapa prasasti dari kerajaan Mataram Kuno. Dua di antaranya adalah Prasasti Rukam (Temanggung, Jawa Tengah) yang berangka tahun 908 M, pada bagian II (dua), baris ke-9. Kemudian Prasasti Alasantan (Mojokerto, Jawa Timur) yang berangka tahun 939 M, pada bagian IV (empat), baris ke-13.

5. Rarrawwan | Rawon

Rawon adalah kuliner sup daging berkuah hitam dengan campuran bumbu khas yang menggunakan kluwek. Rawon, meskipun dikenal sebagai masakan khas Jawa Timur (daerah Arekan), juga dikenal pula oleh masyarakat Jawa Tengah sebelah timur (daerah Surakarta).

Rawon © Wikipedia/christian r

Tahun 2018 lalu, pada pertemuan budaya bertempat di Hotel Millenium Sirih Jakarta, Kuliner Rawon ditetapkan sebagai “Warisan Budaya Tak Benda Benda” tingkat Nasional.

Menyoal kaitan sejarahnya, kuliner ini juga tercatat eksis setidaknya sejak abad ke-12 M, yaitu pada zaman kerajaan Kediri. Kuliner yang bahasa Jawa Kuno (Kawi)-nya disebut “rarawwan” ini, tertera dalam Naskah kakawin Bhomakawya/Bhomântaka, pada syair LXXXI (81), bait ke-37, yang ditulis kuran lebih pada tahun 1182 M.

6. Rujak

Rujak adalah hidangan serupa salad yang terbuat dari bahan-bahan segar terutama buah-buahan dan sayura. Rujak cenderung memiliki cita rasa yang tajam dan pedas karena sausnya yang manis dan pedas, yang terbuat dari cabai, gula aren, dan kacang tanah.

Rujak © Wikipedia/Sofiah Budiastuti

Selain mengacu pada hidangan salad buah ini, dalam bahasa melayu istilah rujak juga berarti “campuran” atau “campuran eklektik”. Dalam bahasa Jawa Kuno (Kawi) juga terdapat kata serupa, Rujak, yang berarti “memotong menjadi kepingan-kepingan kecil”. Yang dimaksud dipotong kecil-kecil itu, ialah buah-buahan dalam sajian rujak.

Serupa dengan kuliner-kuliner sebelumnya, rujak juga telah eksis setidaknya pada abad ke-10 M, tepatnya pada masa Kerajaan Mataram Kuno. Hal ini bisa dibuktikan dengan ditemukannya penyebutan rujak dalam Prasasti Pradah II (Kediri, Jawa Timur) yang berangka tahun 943 M. Kata rujak terdapat di bagian belakang prasasti, tepatnya pada baris ke-45.

7. Dwadwal | Dodol

Dodol adalah panganan manis khas Indonesia berbahan dasar santan kelapa, tepung ketan, gula pasir, gula merah, dan garam. Bahan tambahan pada dodol menentukan rasa.

Dodol/Jenang © Dok. Pribadi

Terdapat variasi dodol dari berbagai daerah di Indonesia, seperti misalnya Dodol Durian atau biasa disebut Dodol Lempok, Dodol Kandangan dari Kalimantan, hingga Dodol Garut yang populer. Sementara di Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Timur dodol disebut “jenang”.

Kuliner di urutan ke-tujuh pada daftar kuliner kali ini juga ternyata telah eksis sejak abad ke-9 atau 10 M, yaitu pada zaman Kerajaan Mataram Kuno. Kuliner dodol bahkan dapat ditemukan dalam berbagai sumber data tertulis kuno, di antaranya pada Naskah Kakawin Rāmāyaṇa, pada syair XVII (17), bait ke-112. Kemudian pada bagian belakang Prasasti Sangguran [928 M], di baris ke-44, lau Prasasti Alasantan [939 M], bagian IV (4), baris ke-16 dan juga di bagian belakang Prasasti Pradah II [943 M] di baris ke-45.


Well, Guys… Tak disangka-sangka memang, di balik kesederhanaan kuliner Nusantara di atas, ternyata menyimpan kisah yang telah berlalu hingga ribuan tahun lamanya. Baiklah, berakhir sudah ulasan tentang 7 kuliner zaman kuno baheula yang keberadaannya masih dapat dijumpai di sekitar kita hingga saat ini.

Tetap cinta warisan kuliner Indonesia, juga warisan budaya Nusantara lain tentunya, Semoga bermanfaat dan sampai jumpa di artikel-artikel berikutnya.

Sumber: KasKus/rocket2019, berbagai sumber.

Share it!

Tulis komentar

Your email address will not be published.

x

Register

Lost Password

Jangan disalin. Jika ingin menyalin teks ini, hubungi kontak kami.